SULUK ABDUL JALIL perjalan ruhani Syaikh Siti Jenar Buku 2 part-1

image

Exegese

Maharaja Rahwana – yang dalam epos Ramayana distigmakan sebagai raja kawanan raksasa-pasti tak oernah membayangkan dirinya bakal mengalami nasib buruk,seiring kekalahan yang di alaminya dalam pertempuran melawan bala tentara Kiskenda.Rahwana tampaknya tidak pernah membayangkan citra keagungan dirinya luluh lantak seiring stigma yang di bangun oleh para pemenang perang.Tentunya,ia tidak bakal menyangka dirinya dicitrakan sebagai raja diraja dari mahlikraksasa yang biadab haus darah yang menjadi musuh dewa-dewa dan manusia.
Kita tidak tahu apa yang sebenarnya di lakukan oleh para pemenang perang setelah kekalahan Maharaja Rahwana.kita hanya tahu bahwa,menurut epos Ramayana yang ditulis para pemenang,leluhur Maharaja Rahwana adah bangsa raksasa yang kejam,jahat,licik,rakus,brutal,haus darah,dan biadab.Padahal,di dalam berbagai versi tentang epos Ramayana selalu mita temukan gambaran bahwa Maharaja Rahwana hidup di Alengka,sebuah kota yang penuh bangunan yang berarsitektur tinggi,makmur,mewah ,dan memiliki sistem pemerintah yang bersifat musyawarah dengan penasihat-penasihat maharaja yang cerdik dan bijak.Sebaliknya para pemenang perang selalu digambarkan hidup di lingkungan hutan dengan penghuni “masyarakat kera”  yang berperadaban rendah dan sistem pemerintah bersifat kultus individu.
Lepas dari benar tidaknya epos Ramayana dalam konteks objektivitas sejarah,kita bisa menangkap terjadi proses ethnic clensing dalam bentuk tumpas kelor terhadap Rahwana,saudara-saudara,keturunan,bala tentara,dan bahkan bangsanaya,Proses itu terjadi karena di dalam pemikiran masyarakat yang terhegemoni pengaruh peradaban Aryan.Puak-puak masyarakat yang digolongkan sebagai raksasa adalah musuh dewa-dewa dan manusia yang wajib di basmi kapan pun dan dimana pun mereka berada.Lalu,terjadilah ethnic cleansing itu.Komunitas “raksasa” yang melarikan diri tentu saja segera tersingkir dari lingkungan peradaban tinggi di Alengka.Bangsa raksasa, di kelak kemudian hari selalu di gambar sebagai penghunj rimba raya.
Nasib buruk yang dialami Rahwana dan bangsanya, ternyata dialami pula oleh para pahlawan Indian seperti Mangus

image

Durango,Geronimo,Montezuma,Mohawk,dan Sitting Bull.Para pahlawan pejuang itu tak pernah membayangkan,seiring kekalahan yang mereka terima,bakal di stigmakan sebagai pemimpin kawanan manusia biadap yang kejam dan jahat.Oleh karena stigma itu,orang-orang kulit putih boleh membasmi mereka kapan dan dimana saja tanpa perlu merasa berdosa.
Pada dekade 1960-an dan 1970-an,misalnya, hampir semua film Western baik layar lebar maupun serial televisi seperti Red Sun , Alamo, Jango,Patt Garret,Billy The Kid,Wild Wild West ,Rintintin, dan Bonanza menyuguhkan cerita – cerita yang di selingi penggambaran citra kebiadaban,kekejaman,kebrutalan,dan keganasan bangsa Indian Suku Sioux,Apache,Pawnee,Cayenne,Commanche,Toltecs,Mohican,dan Aztec nyaris digambarkan kawanan orang biadab yanh suka perang,kejam,haus darah,dan brutal.Peninton film-film Western dewasa itu bersorak-sorak dan bertepuk tangan ketika menyaksikan para koboi dengan tanpa ampun menembaki mereka.

image

Memasuki dekade 1980-an dan 1900-an baru muncul film-film yang agak objektif tentang bagaimana sebenarnya kesengsaraan dan penderitaan bangsa Indian ketika menghadapi imgran Eropa yang serakah,bengis,kejam dan tak kenal ampun,dan mau menang sendiri;yang merampas tanah dan berusaha membasmi mereka dari bumi amerika.Film Dance whit Wolve ,Pochahontas,Columbus 1942,dan The Last Of The Mohican,mengungkapkan bagaimana orang-orang Indian harus lari dan bersembunyi dari buruan imigran Eropa.
Nasib tragis Rahwana dan bangsa Indian ternyata dialami pula oleh Syaikh Siti Jenar,penyebar Islam di Jawa pada perempat kedua abad ke-16. Benberapa waktu setelah penyerbuan ibukota Majapahit oleh kelompok-kelompok Muslim bersenjata yang di pimpin jakfar shadiq,Susuhunan Kudus,Syaikh Siti jenar disidang dengan tuduhan menyebarkan bid’ah  yang membahayakan kerajaan dan masyarakat muslim.

image

Menudut sejumlah sumber Historiografi sejenis babad,dalam sidang itu Syaikh Siti jenar dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman mati. Namun, sumber-sumber tedsebut justru menyulut kontroversi yang sangat membingungkan. Pasalnya, menurut kronologi waktu, tokoh-tokoh yang disebut sebagai anggota Dewan Wali seperti Sunan Giri, Sunan Bonang, Raden Patah, dan Sunan Ampel, sudah meninggal belasan bahakan puluhan tahun sebelum peristiwa itu terjadi. Lebih membingungkan lagi, Susuhunan Giri (yang mungkin adalah Sunan Dalem,Susuhunan Giri II )dalam kasus itu di kisahkan membuat pernyataan: “Syaikh Siti Jenar ‘inda an-nas wa mu’min ‘inda Allah. (Syaikh Siti Jenar kafir menurut manusia, namun mukmin menurut Allah).” Sementara Susuhunan kudus  di kabarkan sangat menghormato dan memulyakan Syaikh Siti Jenar. Bahkan,lebih aneh lagi disebutkan mayat Syaikh Siti Jenar menyebarkan bau wangi semerbak,namun kemudian menjelma menjadi anjing berbulu hitam. Konon, bangkai anjing itu di kuburkan di Masjid Agung Demak.
Lepas dari benar dan tidaknya sumber-sumber Historiografi sejenis babad tersebut, yang jelas, saat itu beribu-ribu bahkan berpuluh-puluh ribu orang yang menjadi pengikut, keluarga pengikut,kawan para pengikut, mereka yang diduga menjadi pengikut,atau sekedar simpatisan Syaikh Siti Jenar,pasti merasa takut, tgang, dan bahkan panik. Soalnya, pemimpin mereka telah di jatuhi hukuman mati di Masjid Demak. Dan, seiring eksekusi itu, meluas stigma bahwa Syaikh Siti Jenar bukan manusia, melainkan seekor cacing yang menjelma manusia ketika mendengar wejangan Sunan Bonang kepada Sunan Kali Jaga. Itu sebabnya,ketika mati  tokoh sesat itu dikisahkan jasadnya kembali lagi dalam wujud hewan.
Ketakutan dan ketegangan para pengikut semakin meningkat ketika mendengar kabar kematian Ki Lonthang beberapa waktu setelah kematian gurunya. Bahkan, ketakutan dan ketegangan mereka pasti meningkat menjadi kepanikan manakala terdengar kabar susulan di eksekusinya Ki Ageng Pengging, murid terkasih Syaikh Siti jenar.
sekalipun ketakutan, ketegangan, dan kepanikan yang dialami pengikut Syaikh Siti Jenar tidak pernah di paparkan, buku-buku seperti Babad Tanah Jawi, Suluk Syaikh Lemah Abang, Boekoe Siti Djenar, dan Serat Wali Sanga mengungkapkan bagaimana Ki Ageng Tingkir, Ki Banyu Biru, Ki Ageng Butuh, Ki Ageng Ngerang, dan pengikut Syaikh Siti Jenar yang lain menyatakan tunduk kepada penguasa Demak. Dan, sebagaimana nasib Rahwana dan bangsa Indian, slama beratus-ratus tahunSyaikh Siti Jenar dan pengikutnya selalu di stigmakan sbagai penyebar ajaran bid’ah yang sesat.

>>>>>> SULUK ABDUL JALIL perjalanan ruhani Syaikh Siti Jenar BUKU 2 part-2

Posted from WordPress for Android

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s