Kumpulan Cerita dan Fatwa Bijak

image

Belajar tentang Hati pada Hudzaifah bin Yaman ra

Ada salah seorang sahabat Rasulullah SAW yang juga pahlawan besar dalam perang Nahawand melawan Persia. Dikenal sebagai sahabat yang pandai bersilat lidah dan mempunyai ketajaman pandangan. Sang pembawa rahasia Rasulullah SAW dan musuh besar kemunafikan.

Dialah sahabat Hudzaifah bin Yaman ra, sahabat yang terdidik langsung dari tangan Rasulullah SAW. Ia adalah orang yang terpercaya dan pandai dalam membaca tabiat dan air muka seseorang. Bahkan Amirul Mukminin Umar bin Khattab juga mengandalkannya dalam mengenali seorang tokoh atau orang lain.

Hudzaifah bin Yaman pernah berbicara soal hati manusia yang terbagi menjadi empat macam, yaitu:

Hati yang terjaga dan diterangi pelita, itulah hati orang yang beriman
Maksud dari hati yang terjaga adalah hati yang telah melepaskan diri dari segala ketergantungan selain kepada Allah dan Rasul-Nya. Ketika seorang yang mempunyai hati yang terjaga, maka segala tindak tanduknya akan senantiasa terlindungi dari perkara-perkara yang diharamkan oleh Allah SWT.

Ketika bahaya mengancam, maka Dzat yang pertama kali ia ingat dan sebut adalah Allah. Ia tidak pernah butuh dengan bantuan orang lain, yang dibutuhkan adalah pertolongan dari Allah. Pertolongan yang diberikan orang lain hanyalah sebagai wasilah dari bentuk penjagaan Allah terhadap hamba-Nya.

Generasi yang paling terjaga hatinya hanya untuk Allah adalah generasi terbaik sepeninggal Rasulullah SAW. Dalam firman-Nya disebutkan,

ٱلَّذِينَ قَالَ لَهُمُ ٱلنَّاسُ إِنَّ ٱلنَّاسَ قَدْ جَمَعُوا۟ لَكُمْ فَٱخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَٰنًۭا وَقَالُوا۟ حَسْبُنَا ٱللَّهُ وَنِعْمَ ٱلْوَكِيلُ

(Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.” (Ali Imran : 173)

Saat itu, kaum muslimin masih terngiang akan kejadian pada perang Uhud. Hingga ketika ditantang kembali pada perang Badr Shugra ada seseorang yang datang bernama Nu’aim bin Mas’ud Al-Asyja’i dari kalangan Bani Abdil Qais.

Ia adalah orang suruhan dari Abu Sufyan untuk menggembosi semangat juang kaum muslimin. Namun, Rasulullah SAW dengan lantang menjawab, ““Demi Dzat yang jiwaku ini di tangan-Nya, sungguh aku akan keluar menghadapi mereka meskipun aku sendirian”.  Rasulullah SAW tetap berangkat bersama 70 puluh sahabat.

Rasulullah SAW mengajarkan doa ini ketika mendengar perkataan penggembosan dari Nu’aim,

حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

{Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami Dan Dialah sebaik-baik pelindung}

Seseorang yang telah menggantungkan hidupnya hanya untuk Allah, maka tidak akan pernah rasa takut dan putus asa dalam membela dien-Nya.

Sedangkan maksud dari diterangi pelita adalah hati yang telah diselimuti iman dan lepas dari pengaruh keduniawian. Seseorang yang telah tertancap keimanan di hatinya maka dunia hanyalah menjadi wasilah untuk menggapai akhirat.

Para shahabat Nabi tidak pernah ragu untuk mengeluarkan hartanya di jalan fi sabilillah. Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf dan sederetan sahabat lainnya siap membiayai semua kebutuhan kaum muslimin kala itu.

Hati yang tertutup, itulah hati orang kafir
Allah menutup rapat-rapat hati orang kafir dari petunjuk dan hidayah-Nya.

Allah SWT berfirman,

خَتَمَ ٱللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ وَعَلَىٰ سَمْعِهِمْ ۖ وَعَلَىٰٓ أَبْصَٰرِهِمْ غِشَٰوَةٌۭ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌۭ

“Allah telah mengunci-mati hati, pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.” (Al-Baqarah : 7)

Salah satu bentuk siksaan dari Allah SWT adalah menempatkan penutup di hati-hati orang kafir agar tidak dapat menerima petunjuk dari-Nya. Hidayah Allah SWT hanya diberikan kepada orang-orang yang telah dipilih-Nya saja. Maka, berbahagialah ketika seseorang telah dibukakan pintu hatinya untuk menerima Islam. Sebab, pertanda bahwa Allah SWT masih memberi kesempatan untuk masuk ke dalam Jannah-Nya.

Hati yang terbolak-balik, itulah hati orang munafik
Inilah sejahat-jahatnya hati yang dimiliki manusia. Allah SWT telah membalikkan hati orang  munafik kepada kekafiran disebabkan perbuatan mereka sendiri.

فَمَا لَكُمْ فِى ٱلْمُنَٰفِقِينَ فِئَتَيْنِ وَٱللَّهُ أَرْكَسَهُم بِمَا كَسَبُوٓا۟ ۚ

“Maka mengapa kamu (terpecah) menjadi dua golongan dalam (menghadapi) orang-orang munafik, padahal Allah telah membalikkan mereka kepada kekafiran, disebabkan usaha mereka sendiri?” (An-Nisa’ : 88)

Di dalam sejarah, orang-orang munafik berperan aktif dalam menggembosi semangat jihad kaum muslimin. Saat perang uhud sejumlah 300 tentara berbalik arah karena hasutan orang-orang munafik. Selamanya orang-orang munafik ini akan menjadi duri di tubuh kaum muslimin.

Hati yang berisi keimanan dan kemunafikan
Hati jenis ini tidak sepenuhnya berpihak kepada keimanan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Karena terkadang hati dekat dengan keimanan dan kekafiran secara bergantian tergantung dengan apa yang paling berpengaruh saat itu.

Orang-orang yang mempunyai hati jenis ini seharusnya segera memperbaiki iman dan kembali kepada Allah SWT secara keseluruhan. Karena jika hal ini tidak segera diperbaiki,maka  akan semakin parah dan mungkin  berubah menjadi kemunafikan bahkan kekafiran.
( Dhani el_Ashim)

image

(Fatwa Hati)

#TentangHati

Cinta Kepada Allah

Cinta kepada Allah itu laksana api apapun yang dilewatinya akan terbakar. Cinta kepada Allah itu laksana cahaya apapun yang dikenainya akan bersinar.Cinta kepada Allah itu langit apapun yang dibawahnya akan ditutupnya.
Cinta kepada Allah itu laksana angin apapun yang ditiupnya akan digerakkannya.
Cinta kepada Allah itu laksana air dengannya Allah menghidupkan segalanya. Cinta kepada Allah itu laksana bumi dari situ Allah menumbuhkan segalanya.Kepada siapa yang mencintai Allah, Dia berikan kekuasaan dan kekayaan.
(Sayyidina Ali krw)
(Fatwa Cinta)

Hati Yang Ternoda

Apa yang membuat hati itu ternoda? Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِى قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ وَهُوَ الرَّانُ الَّذِى ذَكَرَ اللَّهُ ( كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Jika seorang hamba berbuat sebuah dosa, maka akan ditorehkan sebuah noktah hitam di dalam hatinya. Tapi jika ia meninggalkannya dan beristigfar niscaya hatinya akan dibersihkan dari noktah hitam itu. Sebaliknya jika ia terus berbuat dosa, noktah-noktah hitam akan terus bertambah hingga menutup hatinya. Itulah dinding penutup yang Allah sebutkan dalam ayat, _‘Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya apa yang selalu mereka kerjakan itu menutup hati mereka.’_ (QS.al-Muthaffifin: 14).” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).
(Fatwa Hati)

#NodaHati

Hati-hati dengan Hati

Hati bisa sakit sebagaimana badan bisa sakit. Dan obat hati ada pada taubat dan perlindungan diri. Hati juga bisa kotor sebagaimana cermin bisa kotor. Dan mengkilapnya hati adalah dengan dzikir. Hati bisa telanjang sebagaimana tubuh juga bisa telanjang. Dan perhiasan hati adalah ketakwaan. Hati juga bisa lapar dan haus sebagaimana halnya badan. Dan makanan dan minuman hati adalah ma’rifah (pengetahuan tentang Allah), mahabbah (kecintaan terhadap Allah), tawakal, senantiasa kembali dan mengabdi hanya kepada Allah.
(Translate:Ibn qayyim)

(Fatwa Hati)

#HatiHati

Posted from WordPress for Android

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s